"Tapi apa kata kenalan kita? Tetangga kita? Kita jadi gembel! Di mana
kita hidup?"
Aku kembali tersenyum.
"Itu yang menjadi masalah. Kita terlalu memikirkan apa yang dikatakan
oleh orang lain terhadap diri kita. Padahal belum tentu mereka seperti
apa yang kita pikirkan. Kita bikin senang sajalah, dunia ini luas.
Kolong jembatan itu masih luas itu kita bertiga," jawabku. Selengkapnya..
kita hidup?"
Aku kembali tersenyum.
"Itu yang menjadi masalah. Kita terlalu memikirkan apa yang dikatakan
oleh orang lain terhadap diri kita. Padahal belum tentu mereka seperti
apa yang kita pikirkan. Kita bikin senang sajalah, dunia ini luas.
Kolong jembatan itu masih luas itu kita bertiga," jawabku. Selengkapnya..
[Cerpen] Syifa diujung senja merah
"Maaf, sepertinya aku tidak bisa menepati janjimu..."
"Kenapa? Apa karena hatimu hanya untuk dia?!" Ia melempar tatapannya padaku, matanya sembab. Aku melihat kristal-kristal kecil itu mengurai di pelipis matanya. Sudah berapa lama kami berdebat mengenai hubungan ini, kami tidak tahu. Mungkin karena terlalu sering mendebatkan hal ini, aku jadi tidak mengenal waktu. Selengkapnya..
[Cerpen] Syifa diujung senja merah 2
Kedua mata ayah membulat besar seakan keluar, tatapannya nanar. Seperti itulah ketika ayah sudah mulai naik darah tanpa peduli siapa yang dihadapi. Bahkan aku saja yang sebagai anaknya tidak dapat membendung gempuran bertubi-tubi dari mulut ayah. Aku sadar bahwa seorang anak harus selalu patuh pada apa yang orang tua kita perintahkan asalkan masih dalam koridor yang benar. Aku cepat mengambil langkah masuk ke kamarku, tidak sempat lagi kulihat wajah yang penuh amarah itu. Selengkapnya..
“Tidak …! Tidak mungkin …“ Teriakanku membahana. Melolong perih di kamar mungil dan sumpek ini.
Suster menyodorkan sebuah dokumen, saat kubaca kontras membuatku tersentak. Bibirku mengatup rapat. Dadaku terasa sesak. Aku divonis lumpuh dan kakakku tak bisa diselamatkan. Selengkapnya..
Sungai-sungai meluap, bersama lumpur meluluh lantakan rumah-rumah di desaku. Pohon-pohon tumbang, akarnya pasrah pada arus. Semua yang menghadangnya akan dilimbas, diratakan bersama tanah. Alam telah marah, marah akan manusia yang selalu memandang sebelah mata, selalu membuat kerusakan di bumi. Selengkapnya..
Hari itu aku telah melihat semuanya, hari yang tidak akan mudah untuk dibuang dari otakku. Sekarang tidak ada lagi siulan burung-burung yang bertengger di dahan dekat rumahku, tidak ada lagi derikan serangga-serangga yang selalu membuat betah telinga untuk terus mendengar. Selengkapnya..