‘Ali bin ‘Abdullah ad-Farbi berkata :
“Diantara cerita yang paling berkesan kepadaku adalah, ada empat orang dari salah satu lembaga bantuan (kemanusiaan) di Kerajaan Arab Saudi diutus untuk menyalurkan bantuan di pelosok hutan Afrika. Setelah berjalan kali selama empat jam dan setelah lelah berjalan, mereka (4 orang utusan ini, pent.) melewati seorang wanita tua di salah satu kemah dan mengucapkan salam kepadanya lalu memberikannya bantuan. Wanita tua itu bertanya kepada mereka : “Kalian dari negara mana?” Mereka pun menjawab : “Kami dari Kerajaan Arab Saudi.”
Lalu wanita tua itu berkata : “Sampaikan salamku untuk Syaikh Ibnu Baz.” Mereka bertanya, “Semoga Alloh merahmati Anda, bagaimana Ibnu Baz bisa mengenal Anda sedangkan Anda berada di lokasi yang terpencil dan jauh ini?”
Wanita renta itu menjawab : “Demi Alloh, sesungguhnya beliau (Syaikh Ibnu Baz) mengirimkan uang 1000 real kepadaku setiap bulan setelah aku mengirimkan sepucuk surat kepadanya untuk memohon bantuan dan pertolongan setelah (meminta) pertolongan Alloh Azza wa Jalla.”
(Tabloid Al-Madinah no 12182)
Senin, 01 Februari 2010
Kisah nyata yang mengagumkan
Kamis, 28 Januari 2010
Syifa di ujung senja merah
Oleh: fan febrian
"Maaf, sepertinya aku tidak bisa menepati janjimu..."
"Kenapa? Apa karena hatimu hanya untuk dia?!" Ia melempar tatapannya padaku, matanya sembab. Aku melihat kristal-kristal kecil itu mengurai di pelipis matanya. Sudah berapa lama kami berdebat mengenai hubungan ini, kami tidak tahu. Mungkin karena terlalu sering mendebatkan hal ini, aku jadi tidak mengenal waktu.
Ia memalingkan muka dariku, kondisi yang kalut menyelimuti dirinya, matanya memerah sambil memandangi riakan air di hadapannya. Berdiri menelisik luasnya danau yang biru dikelilingi pepohonan pinus.
Aku mencoba mendekati dia pelan-pelan, dadaku berdegup kencang. Aku ingin membuatnya tenang. Dan ia masih saja memandangi riakan air danau yang biru. Hembusan angin begitu sejuk saat kuhirup, sangat alami dan begitu banyak oksigen di tepi danau ini. Namun itu tidak membuat aku tenang menghadapi dia. Walaupun sesekali burung-burung berkicauan seakan ingin kami berdua diam tanpa ada lagi adu mulut.
"Maaf, sepertinya aku tidak bisa menepati janjimu...""Kenapa? Apa karena hatimu hanya untuk dia?!" Ia melempar tatapannya padaku, matanya sembab. Aku melihat kristal-kristal kecil itu mengurai di pelipis matanya. Sudah berapa lama kami berdebat mengenai hubungan ini, kami tidak tahu. Mungkin karena terlalu sering mendebatkan hal ini, aku jadi tidak mengenal waktu.
Ia memalingkan muka dariku, kondisi yang kalut menyelimuti dirinya, matanya memerah sambil memandangi riakan air di hadapannya. Berdiri menelisik luasnya danau yang biru dikelilingi pepohonan pinus.
Aku mencoba mendekati dia pelan-pelan, dadaku berdegup kencang. Aku ingin membuatnya tenang. Dan ia masih saja memandangi riakan air danau yang biru. Hembusan angin begitu sejuk saat kuhirup, sangat alami dan begitu banyak oksigen di tepi danau ini. Namun itu tidak membuat aku tenang menghadapi dia. Walaupun sesekali burung-burung berkicauan seakan ingin kami berdua diam tanpa ada lagi adu mulut.
Kamis, 21 Januari 2010
Prakiraan Iklim Indonesia 2010
Oleh: Erma Yulihastin
Sudah mafhum diketahui, tahun baru merupakan momentum untuk menayangkan ulang peristiwa penting yang terjadi sepanjang tahun lalu. Bagaikan membuka lagi rekaman lama, kejadian penting di berbagai bidang disorot kembali oleh media massa melalui berbagai acara semacam ”kaleidoskop” dengan tujuan untuk menyegarkan ingatan, mengambil pelajaran serta peringatan bahwa peristiwa yang sama dapat saja berulang meski tahun telah berganti. Bencana alam yang sama buruknya atau bahkan lebih buruk
dari tahun lalu dapat terjadi kembali. Mengevaluasi kondisi iklim di Indonesia sepanjang tahun 2009 menjadi penting sebab bencana alam terkait dengan iklim seperti banjir dan kekeringan merupakan bencana yang paling sering terjadi dengan tingkat risiko nomor wahid berdasarkan peringkat kebencanaan di negeri khatulistiwa ini. Jadi
bagaimanakah kondisi iklim di indonesia selama 2009 lalu? Bagaimana pula prediksi Iklim di Indonesia pada 2010? Artikel ini bermaksud mengulasnya secara ringkas dalam tinjauan ilmiah.
Sudah mafhum diketahui, tahun baru merupakan momentum untuk menayangkan ulang peristiwa penting yang terjadi sepanjang tahun lalu. Bagaikan membuka lagi rekaman lama, kejadian penting di berbagai bidang disorot kembali oleh media massa melalui berbagai acara semacam ”kaleidoskop” dengan tujuan untuk menyegarkan ingatan, mengambil pelajaran serta peringatan bahwa peristiwa yang sama dapat saja berulang meski tahun telah berganti. Bencana alam yang sama buruknya atau bahkan lebih buruk
dari tahun lalu dapat terjadi kembali. Mengevaluasi kondisi iklim di Indonesia sepanjang tahun 2009 menjadi penting sebab bencana alam terkait dengan iklim seperti banjir dan kekeringan merupakan bencana yang paling sering terjadi dengan tingkat risiko nomor wahid berdasarkan peringkat kebencanaan di negeri khatulistiwa ini. Jadi
bagaimanakah kondisi iklim di indonesia selama 2009 lalu? Bagaimana pula prediksi Iklim di Indonesia pada 2010? Artikel ini bermaksud mengulasnya secara ringkas dalam tinjauan ilmiah.
Langganan:
Postingan (Atom)