Kamis, 28 Januari 2010

Syifa di ujung senja merah

Oleh: fan febrian

"Maaf, sepertinya aku tidak bisa menepati janjimu..."
"Kenapa? Apa karena hatimu hanya untuk dia?!" Ia melempar tatapannya padaku, matanya sembab. Aku melihat kristal-kristal kecil itu mengurai di pelipis matanya. Sudah berapa lama kami berdebat mengenai hubungan ini, kami tidak tahu. Mungkin karena terlalu sering mendebatkan hal ini, aku jadi tidak mengenal waktu.

Ia memalingkan muka dariku, kondisi yang kalut menyelimuti dirinya, matanya memerah sambil memandangi riakan air di hadapannya. Berdiri menelisik luasnya danau yang biru dikelilingi pepohonan pinus.

Aku mencoba mendekati dia pelan-pelan, dadaku berdegup kencang. Aku ingin membuatnya tenang. Dan ia masih saja memandangi riakan air danau yang biru. Hembusan angin begitu sejuk saat kuhirup, sangat alami dan begitu banyak oksigen di tepi danau ini. Namun itu tidak membuat aku tenang menghadapi dia. Walaupun sesekali burung-burung berkicauan seakan ingin kami berdua diam tanpa ada lagi adu mulut.



"Syifa, aku mohon jangan bersikap seperti itu. Aku tahu, apa yang akan terjadi jika hubungan ini usai..." Ucapku perlahan meluncur, melelehkan kebisuan di antara kami.

"Oh jadi kamu mau aku menuruti apa katamu? Kalau begitu, sekarang aku ingin kamu pergi dari hadapanku!" Tegas Syifa dengan wajahnya yang masih sembab. Ia memalingkan muka lagi pada riakan air, menatap seolah di kedalaman sana ada ketenangan yang dapat membuat dirinya tidak limbung.

Aku mematung, menatap kaku pada Syifa. Hembusan angin membelaiku dan menerpa rumput-rumput hijau yang aku injak. Ya mungkin angin mencoba memberitahuku bahwa rumput pun akan terkoyak dengan pijakanku dan seperti itu pula yang menimpa hati syifa. Langit yang mulai kelabu seolah menatapku dengan sinis, melemparku ke dimensi rumit.




***


Foto Syifa terpajang di sudut kamarku, seulas senyum tergambar di sudut bibirnya. Matanya begitu bening. Aku tidak pernah bosan memandanginya, aku sengaja foto itu kupajang agar aku tidak pernah merasa Syifa pergi dari hidupku.

Sekarang aku tidak punya harapan lagi untuk bertemu Syifa, keputusannya telah menusuk seponggah hatiku hingga kurasakan perih dan sakit yang telah menjangkitiku selama ini.

"Dafi, kamu masih ingat pertama kali kita bertemu?" Ucap syifa di suatu senja.
"Ya, tentu. Aku tidak pernah lupa!"
"Saat itu kamu sibuk menenteng beberapa buku dari perpustakaan. Kalau tidak salah, buku itu buku sastra bukan?" Syifa coba menebak, mengingat-ingat masa itu.

Di sebuah taman dekat rumahku, kami berdua asyik berbincang ditemani senja yang merayapi dinding-dinding langit. Rumput-rumput hijau beserta bunga-bunga aster bertebaran di setiap ujung taman. Beberapa pohon palm tumbuh tinggi di taman ini, ada juga pohon mangga walaupun batangnya masih terlihat pendek tetapi mampu berbuah saat musim panas tahun lalu.

"Iya, benar. Aku selalu menyukai buku sastra. Tapi waktu itu salah satu bukuku tertukar dengan bukumu. Mungkin tidak akan terjadi jika kamu tidak menyerobot antrian di meja petugas perpustakaan," jawabku sambil menikmati keindahan taman ini.
"Tidak persis seperti itu, Dafi. Aku cuma mengambil antrian dari depan." Jawabnya ketus. Raut mukanya mulai nampak menekuk.

Aku tersenyum. Aku mulai geli melihat ekspresi wajahnya, persis anak kecil jika dia menekuk wajahnya. Bersikukuh dengan ucapannya adalah karakter yang selalu melekat di diri syifa. Aku begitu senang berada dekat dengannya tapi tidak lama aku dapat merasakannya karena perbincanganku bersama syifa di taman itu merupakan hari terakhir aku bertemu dengannya. Karena setelahnya aku tidak pernah diizinkan keluar rumah selain pergi kuliah. Aku tidak pernah tahu alasan apa yang melatar belakangi orang tuaku untuk melarangku.

"Dafi, mulai sekarang ayah tidak mau kamu keluar bebas bepergian tanpa seizin ayah atau ibumu. Apalagi jika kamu selalu berkesempatan jalan dengan temanmu yang bernama Syifa itu!" Kata-kata tersebut yang aku dengar dari mulut ayah.
"Tapi kenapa?" Aku mencoba berargumen.
"Pokoknya jangan membantah ayah!" Nadanya meninggi, terasa pedas hinggap ditelingaku.


(bersambung)


Januari 2010

1 komentar:

  1. Sangat dramatis, setiap detil plot begitu apik dan serius.
    Teruskan semangat menulisnya ya...

    BalasHapus

kunjungi selalu http://dindingmenulisonline-getaufan.blogspot.com

Ada kesalahan di dalam gadget ini