Rabu, 03 Februari 2010

Syifa di ujung senja merah 2

Oleh: fan febrian

Kedua mata ayah membulat besar seakan keluar, tatapannya nanar. Seperti itulah ketika ayah sudah mulai naik darah tanpa peduli siapa yang dihadapi. Bahkan aku saja yang sebagai anaknya tidak dapat membendung gempuran bertubi-tubi dari mulut ayah. Aku sadar bahwa seorang anak harus selalu patuh pada apa yang orang tua kita perintahkan asalkan masih dalam koridor yang benar. Aku cepat mengambil langkah masuk ke kamarku, tidak sempat lagi kulihat wajah yang penuh amarah itu.

Bayang-bayang sewaktu bersama Syifa melayang-layang memenuhi ruang kamarku, pikiranku terasa terhalangi dinding-dinding beton. Pikiran jernihku mulai berhamburan, mengikis segala hal yang tersimpan di memoriku. Tapi foto Syifa yang terpajang di dinding membuatku tetap berusaha jernih. Walaupun sebenarnya aku berkeinginan mencari keberadaan Syifa sekarang, karena sudah beberapa bulan tidak pernah mendapat kabarnya sedikitpun.


Aku berontak. Kutinggalkan sebuah pesan, kutulis di secarik kertas, kutinggalkan di tempat tidurku tanpa dimasukan pada sebuah amplop. Diam-diam aku merayap perlahan tanpa meninggalkan suara. Pintu kamar kubiarkan setengah terbuka. Beruntung ayah masih berada di ruang depan, aku bisa melewati pintu dapur. Dan kini aku bisa bernafas lega, menghirup keleluasaan tanpa ada lagi tekanan.
***

Alunan Alquran meliuk-liuk, terasa layaknya berada di dekat air yang mengalir tenang dengan dipenuhi hamparan rumput hijau di setiap tepinya saat menyapa di kedua telinga. Ruangan itu penuh dengan muslimah muda yang dibalut jilbab jumbo, berjejer rapi di depan masing-masing meja kayu kecil memanjang. Ada yang memperhatikan dengan detil setiap tulisan arab penuh yang tergeletak apik di mejanya, sebagian juga terlihat serius memperhatikan apa yang diutarakan muslimah berkerudung jingga dengan balutan pakaian berjuntai erat menutupi setiap lekuk tubuhnya.

"Ada yang setuju dengan usulanku?" Tiba-tiba suara itu lantang terdengar. Seseorang mengangkat jari telunjuknya.
"Sepertinya antum sekalian setuju dengan usulan ukhti Syifa jika kemajuan yayasan ini ditentukan oleh tangan-tangan kreatif dan berjiwa santun. Tapi sebelumnya niat kita harus istiqomah hingga selesai nanti..." Tegasnya sambil sesekali memandang teduh pada Syifa. Banyak mata memandangi aksi uraiannya yang disampaikan oleh Syifa tadi dengan antusias. Beberapa di antaranya tertegun.

(bersambung)
3 Februari 2010


1 komentar:

kunjungi selalu http://dindingmenulisonline-getaufan.blogspot.com

Ada kesalahan di dalam gadget ini