Senin, 26 Oktober 2009



TERSENYUM
Cerpen By
Irvant Noordint





Aku suka tersenyum. Di manapun aku selalu tersenyum. Bagiku tersenyum
adalah cermin jiwa yang optimis. Ketika menghadapi kondisi apapun aku
berusaha untuk tersenyum. Tidak pernah aku menangis.


Aku pernah kehilangan satu tungkai kakiku karena kecelakaan. Waktu itu
amputasi bukanlah menjadi pilihan. Ia malah menjadi keharusan karena
lukaku tidak dapat disembuhkan. Dan aku tetap memilih untuk tersenyum.
Bukankah aku masih punya satu kaki lagi? Aku pun bisa mengganti kaki
kiriku itu dengan menggunakan kruk. Tapi hanya satu tahun aku
menggunakannya. Kini aku telah menggunakan kaki palsu.

Aku juga pernah kehilangan semua harta-hartaku. Berbidang-bidang tanah,
rumah mewah, villa di beberapa lokasi, hingga mobil mewah. Tapi tetap
aku memilih untuk tersenyum. Karena aku ingat dengan sebuah petuah,
"Saat kekayaan hilang, tidak ada yang lenyap; saat kesehatan hilang, ada
yang lenyap; saat kepribadian hilang, segalanya lenyap." Bukankah aku
masih mempunyai kesehatan badan dan kepribadian diri?


Kejadian itu terjadi begitu saja. Awalnya aku bertemu dengan seorang
teman lama. Ceritanya kami bekerjasana untuk mengembangkan perusahaan
miliknya. Kami pun menandatangani MoU. Semua berjalan lancar. Tapi
beberapa bulan kemudian ia menghilang. Yang datang kepadaku adalah para
debitor yang uangnya dipinjam oleh temanku. Ternyata perusahaan itu
tidak sehat. Ia meminjam permodalan dari beberapa orang dan lembaga. Dan
sekarang aku yang terkena getahnya. Aku harus membayar semua utang-utang
perusahaan itu karena tandatanganku ada di MoU itu. Perusahaan sekarang
itu sudah menjadi tanggung jawabku. Waktu itu aku sempat berpikir, apa
yang harus aku lakukan? Lari dari semua masalah itu dengan tidak
membayari utang-utang itu? Pengacaraku mengatakan aku berada di posisi
yang lemah. Karena telah jelas-jelas tandatanganku ada di MoU itu.
Akhirnya dengan berat hati, tapi tetap tersenyum, setelah bertengkar
hebat dengan isteriku, aku pun merelakan semua hartaku untuk melunasi
utang yang tidak pernah aku perbuat itu.


Begitulah aku tetap tersenyum ketika semua harta bendaku itu hilang. Aku
katakan kepada isteriku yang menangis tujuh hari tujuh malam itu,
"Bersyukurlah karena sebelumnya Allah telah memberikan rumah, mobil dan
tanah itu. Kita pernah memakainya, menempatinya. Coba kalau kita tidak
punya semua itu, mau dibayar dengan apa semua utang perusahaan itu."


Isteriku menangis lebih keras. Ia tetap tidak terima seluruh barang
berharga yang ia punyai dipakai untuk membayari utang yang tidak pernah
dimakannya.


"Tapi apa kata kenalan kita? Tetangga kita? Kita jadi gembel! Di mana
kita hidup?"

Aku kembali tersenyum.


"Itu yang menjadi masalah. Kita terlalu memikirkan apa yang dikatakan
oleh orang lain terhadap diri kita. Padahal belum tentu mereka seperti
apa yang kita pikirkan. Kita bikin senang sajalah, dunia ini luas.
Kolong jembatan itu masih luas itu kita bertiga," jawabku.


Ia meraung. Ia tidak terima jika kulitnya yang sering keluar masuk
salon, spa, dan berbagai macam perawatan tubuh itu tersentuh oleh debu
jalanan, bau comberan, dan rupa aneka sampah yang kotor.


Aku melanjutkan, "Kalau orang lain membicarakan kita, tutupi saja
telinga kita dengan kedua telapak tangan. Bukankah kita telah diberi dua
telapak tangan. Gunakan itu saja. Tidak mungkin kita membungkam mulut
mereka. Terlalu banyak yang harus kita bungkam."


Ia makin meraung.


***


Begitulah keseharianku. Tidak pernah tidak aku tidak tersenyum. Aku
selalu tersenyum. Ketika orang tuaku meninggalkanku pun, menghadap Allah
Swt, aku tersenyum. Aku bangga karena ia telah bertemu dengan Tuhannya
yang telah menciptakannya. Apakah aku tidak bersedih? Tentu saja aku
bersedih karena bagaimanapun ia adalah orang yang berjasa telah
membuatku seoptimis ini. Tapi kesedihan itu aku ekspresikan dengan
tersenyum!


Sebenarnya pernah pula aku menangis. Tapi hanya satu kali. Ya, kalian
tentu bisa menebaknya kapan aku menangis. Aku pernah satu kali menangis.
Aku melakukannya ketika aku keluar dari rahim ibuku. Dan sejak saat itu
aku tidak pernah menangis lagi. Menurut orang-orang yang mengasuhku,
tentu saja. Aku tidak pernah menangis sekalipun dicubit, ditinggalkan
orang tua, dipukul teman. Mereka mengatakan aku selalu tersenyum.


Waktu /mbrojol/ ke dunia itulah kali pertama dan sekaligus terakhir aku
menangis. Sejak saat itu aku tidak pernah menangis lagi. Hingga hari ini.


Beberapa orang pernah bertanya kepadaku kenapa aku menangis waktu lahir
itu. Mungkin saja mereka menganggap hal itu istimewa karena hanya kali
itu saja aku menangis. Aku menjawab dengan gurauan, "Aku menangis karena
meski baru lahir aku telah menanggung utang yang tidak pernah aku
perbuat. Aku tidak pernah berutang kepada siapapun. Para pejabat negeri
inilah yang salah. Mereka meminjam uang dari negara lain dan aku yang
baru lahir itulah -salah satunya- yang harus menanggungnya."


Memang tampaknya utang itu telah melilit takdirku. Aku diharuskan
menanggung utang yang tidak pernah aku perbuat.

***


Aku mendorong gerobak kayu itu dengan lunglai. Sungguh sebuah pekerjaan
yang tidak pernah aku harapkan. Sebuah pekerjaan yang tidak pernah aku
impikan barang sekalipun. Gerobak kayu itu penuh dengan barang-barang
rongsokan. Ada kemasan air minum dalam kemasan, plastik, kardus dan
beberapa barang lainnya. Inilah pekerjaanku sekarang. Inilah sumber
penghasilan utamaku dalam memenuhi kebutuhan hidup.


Aku pernah mencoba untuk mencari pekerjaan lain. Beberapa orang rekan
pernah aku datangi. Aku meminta pekerjaan pada mereka. Tapi mereka
menolaknya. Mereka sungkan untuk mempekerjakanku. Jawab mereka, "Masa
sih Bapak harus menjadi bawahan kami."


Juniorku dalam berbisnis mengatakan, "Bapak merupakan sosok yang kami
idolakan. Bapak adalah panutan kami. Kami tidak tega untuk
menyuruh-nyuruh Bapak."


Yang lain berkilah, "Kami tidak tahu harus menggaji Bapak berapa rupiah.
Karena pengalaman Bapak begitu berharga."


"Semampu perusahaan saja," jawabku.


"Harus profesional. Tidak mungkin kami menggaji pengalaman Bapak itu. Ia
sangat berharga."


Mereka menolaknya.


Aku pun memutuskan untuk meminta bantuan modal kepada Karsono, sahabat
baikku. Ia seorang pengusaha perakitan pesawat tempur. Ia sering
mengekspor pesawat itu ke beberapa daerah konflik. Ia pasti mempunyai
uang. Tapi ia menolaknya. Ia mengatakan sedang krisis global. Tidak
banyak konflik di dunia ini. Berbeda jika ketika perang Vietnam dan
perang Teluk. Waktu itu keuntungan yang ia peroleh berlipat ganda.
Sekarang keuntungan perusahan telah menyusut. Perusahaan pun sedikit
merangkak karena sepi order.


"Satu juta saja," kataku.


"Satu juta dollar?"


"Rupiah! Satu juta rupiah!"


Ia melongo. Tidak pernah dalam melakukan transaksi keuangan aku
mengatakan hal itu.


"Untuk usaha apa uang seperti itu?" tanyanya.


"Membuat gerobak dorong"


"Gerobak dorong? Ekspor?"


Kembali aku tersenyum. Ternyata sulit untuk mengubah pandangannya yang
demikian beku. Aku terkenal sebagai pengusaha multinasional. Pengusaha
ekspor impor. Dan image itu terus melekat dalam benaknya. Jadi apapun
yang aku katakan adalah skalanya besar, wah, dan fantastis. Mereka tidak
pernah berpikir yang sederhana ketika berhadapan denganku.


"Gerobak dorong untuk jualan minuman ringan," jawabku.


Mulutnya membentuk huruf O.


Aku tersenyum.


Dan beginilah akhirnya. Aku menjadi pengusaha kembali. Aku menjadi
pengumpul barang-barang bekas. Aku tidak jadi jualan minuman ringan
karena Karsono tidak memberiku modal itu. Ia tetap tidak percaya aku
akan jualan di pinggir jalan.


Aku menarik gerobak dengan tertatih-tatih. Aku menuju ke tempat
tinggalku yang terletak di kolong jembatan. Terik matahari menjilati
tubuhku yang sekarang telah menghitam ini. Bajuku kumal. Rambut gimbal
karena tidak pernah dikeramas.


Aku berjalan mendekati rumahku yang berdinding triplek. Tempat tinggalku
itu berukuran empat kali tiga meter. Aku berhenti di sampingnya. Aku
masuk ke dalam rumah. Seorang perempuan bergaun sedang duduk disana.
Rambutnya seperti habis di-/cream bath/. Sebuah kacamata hitam nangkring
di kepalanya. Di rambutnya yang tergerai indah itu. Ia adalah isteriku.
Ia tetap konsisten dengan gaya dan penampilannya. Meski kami telah
menjadi gembel, ia selalu terlihat modis. Gaun yang sekarang
dikenakannya adalah gaun ketika kami masih jaya. Gaun-gaun isteriku
sedikit demi sedikit kami jual untuk makan. Kini hanya ada tujuh potong
dari ratusan potong yang pernah dimilikinya. Yang tujuh potong inilah
gaun kesayangannya. Ia mengatakan tidak akan pernah menjual gaunnya itu
karena itu adalah gaun yang aku pilihankan ketika kami berbulan madu di
Paris. Ia juga mengatakan ingin tampil menarik di depanku. Hal inilah
yang membuatku bangga. Ia tetap ingin menjadi isteri yang menyenangkan
di hadapan suaminya. Ia pun tetap menerimaku apa adanya. Meski ia pernah
menangis tujuh hari tujuh malam ternyata ia setia kepadaku meski harus
hidup di bawah kolong jembatan.


Isteriku sedang mengipasi tubuhnya yang bersih dan berkeringat itu
dengan sebuah potongan kardus mie instant. Ia sedang menemani anak
semata kapten Hook kami yang sedang belajar.


Melihat aku datang anakku yang berumur empat belas tahun itu
menghampiriku. Ia mencium tanganku. Aku memberikan nasi bungkus yang aku
beli tadi padanya.


"Papa capek?" tanya anakku. Begitulah kebiasaan di keluarga kami. Tidak
berubah. Anak dan isteriku tetap memanggilku papa meski kami telah
terjun ke titik nadir.


Aku hanya tersenyum. Ia memberikan segelas air kepadaku. Aku
menerimanya. Ia memperhatikan aku dengan seksama. Ia terdiam. Ia
beranjak ke belakangku. Ia lantas memijiti belakang tubuhku yang
berkeringat.

"Kamu udah makan?" tanyaku.

Ia menggeleng.


"Makan dulu. Nanti mijitnya kalau telah makan. Agar tenaganya kuat,"
suruhku padanya.


Ia pun mengangguk. Ia beranjak ke depan isteriku yang sedang duduk.
Mereka membuka nasi bungkus yang aku bawa. Nasi putih sekepal ditaburi
ikan asin dan sambal. Mereka memakannya.

"Papa udah makan?" tanya isteriku.


Aku mengangguk. "Tadi di jalan. Tambahin air minum Ayah Mur," kataku
pada anakku. Ia kembali beranjak ke "dapur".


Aku sekarang lebih leluasa untuk memperhatikan isteriku yang sedang
makan itu.

"Kenapa, Pap?"

"Kamu bidadari, Ma," rayuku.


"Gombal," ujarnya sambil tersenyum.


Ya, ia bidadari bagiku. Ia telah melewati banyak rintangan kehidupan
denganku. Di satu saat ia ingin lepas dariku ketika kesulitan itu tidak
dapat kami lewati. Kami kelelahan. Tapi di sisi lain dengan kesadarannya
sendiri ia tidak meninggalkanku. Ia hanya merasa tidak kuat. Tapi
nyatanya ia tidak melakukan hal itu. Cintanya yang begitu besar
kepadakulah yang membuatnya bertahan dalam kesulitan. Dan cintaku
kepadanyalah yang membuatku dapat melakukan apapun bagi kebahagiaannya.
Hanya saja sampai hari ini aku belum mampu untuk membalikkan kondisi
itu. Kami masih terpuruk.

"Kenapa sih, Pap? Dari tadi melihatnya seperti itu," kembali ia bertanya.


Kali ini aku tidak tersenyum. Aku tidak tahu harus bagaimana ketika
melihatnya yang cantik, bergaun mahal dan modis, memakai kacamata hitam,
tapi makan ikan asin di sebuah rumah triplek kolong jembatan!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

kunjungi selalu http://dindingmenulisonline-getaufan.blogspot.com

Ada kesalahan di dalam gadget ini